Senin, 07 Desember 2015


FORM EVALUASI


Mohon maaf apabila ada tulisan yang tidak terlalu terlihat karena ketidaktersediaan tempat .Terima kasih

Selasa, 03 November 2015


Ini adalah contoh dari Attribut design Campaign dari kelompok kita



Minggu, 01 November 2015

Duta Peduli Autis di Sekolah Vanlith dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia
dan   


Kelas:LD33
Dosen:Maria Engeline Santoso
Waktu : sabtu,31-oktober-2015
Pukul:08.20-09.30
Lokasi: Jl. Petamburan V No.67, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Jumlah /siswa/peserta: 96 orang
Hadir:
Ketua : Luisa Nevita Dewi
Anggota :
1.       Luisa Nevita Dewi                            NIM: 1801383316
2.       Victo Tanu                                        NIM: 1801386021
3.       Andre Meliawan                               NIM: 1801374330
4.       Alvin Christian Chandra                   NIM: 1801384685
5.       Thomas Jaya Putra                            NIM: 1801384073
6.       Manuel Benny Tandrianto                NIM: 1801384496
7.       Lyon vensa                                        NIM: 1801373845
8.       Dennis Samuel                                  NIM: 1801373952


foto dilihat dari kiri ke kanan 
(Dennis Samuel,Alvin Christian Chandra,Andre Meliawan,Ibu Kepala Sekolah SMP Strada Pelita Ibu Heri,Luisa Nevita Dewi,Manuel Benny Tandrianto,Lyon Vensa dan Victo Tanu)
mohon maaf untuk victo tanu tidak ada dalam foto karena dia yang berperan mengambil foto ini karena pada saat itu anak-anak langsung belajar dan tidak ada orang yang bisa di minta tolong untuk mengambil foto kelompok kita secara keseluruhan

      Bagian Isi
A.Didalam blog ini kita di berikan tugas mengunjungi sekolah untuk memberikan edukasi tentang autisme sebelum memberikan edukasi ini sebelumnya kita sudah mendapatkan penyuluhan yang di berikan oleh MPATI sendiri .Terlebih dahulu kita akan memberi tahukan apa itu autisme,cara menanggulanginya,pencegahannya dan cara menghadapai anak autisme .Autisme berasal dari kata autis yang berarti sendiri, pasien penderita autisme merasa memiliki dunianya sendiri. Biasanya mereka masa bodoh dengan apa yang terjadi di lingkungannya,autisme itu bukan sebuah penyakit tapi adalah sebuah kelainan genetik yang terjadi sejak di dalam kandungan ,Penyandang autisme tidak memandang status orang tuanya ini bisa terjadi di kalangan masyarakat miskin ,mengengah maupun kaya, Gejala autisme sebetulnya dapat mulai diketahui pada usia kurang dari 18bulan tetapi gejala ini masih belum terlihat dengan jelas .Menurut survey yang di lakukan oleh dokter penyandang autisme lebih sering menyerang anak laki-laki daripada anak perempuan ada beberapa gejala autisme yaitu :
Sejumlah gejala biasanya diperlihatkan oleh anak yang menderita autisme.

1. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun nonverbal, seperti:
- Terlambat bicara atau tidak dapat bicara.
- Mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain.
- Tidak mengerti dan tidak mengeluarkan kata-kata dalam konteks yang sesuai.
- Bicara tidak digunakan untuk komunikasi.
- Meniru atau membeo (ekolalia). Beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada maupun kata-katanya, tanpa mengerti artinya.

2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, misalnya:
- Menolak atau menghindar untuk bertatap mata.
- Tidak menoleh bila dipanggil. - Merasa tidak senang dan menolak untuk dipeluk.
- Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain.
- Bila ingin sesuatu ia menarik tangan orang lain yang terdekat dan mengharapkan tangan orang itu membantu melakukan sesuatu untuknya.
- Bila didekati untuk bermain justru menjauh.
- Tidak berbagi kesenangan untuk orang lain.

3. Gangguan dalam bidang perilaku dan bermain:
- Ia seolah tidak mengerti cara bermain. Bila sudah senang dengan satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh. Yang paling sering adalah keterpakuan pada roda atau sesuatu yang berputar.
- Ia sering juga memerhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau air yang bergerak. Perilaku yang ritualistik sering terjadi, misalnya kalau bepergian harus melalui rute tertentu, saat bermain harus melakukan urutan-urutan tertentu.
- Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misalnya tidak bisa diam, lari ke sana sini tidak terarah, melompat-lompat, berputar-putar, memukul-mukul pintu atau meja, mengulang-ulang suatu gerakan tertentu. Kadang-kadang terlihat perilaku melukai diri sendiri, anak memukul kepala sendiri atau membenturkan kepala ke dinding.
- Kadang anak terlalu diam, misalnya duduk diam bengong dengan tatapan mata yang kosong, bermain secara monoton dan kurang variatif secara berulang-ulang, duduk diam terpukau oleh suatu hal, misalnya bayangan atau benda berputar.

 4. Gangguan dalam bidang perasaan/emosi:- Tidak ada atau kurangnya rasa empati. Ia tak kasihan melihat anak lain menangis melainkan merasa terganggu. - Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata.
- Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapat yang diinginkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan destruktif.


5. Gangguan dalam persepsi sensoris:
- Mencium-cium, menggigit atau menjilati benda apa saja.
- Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
- Tidak menyukai rabaan atau pelukan. Jika digendong cenderung merosot atau melepaskan diri dari pelukan.
- Merasakan sangat tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan tertentu.

 autisme bisa di sembuhkan apabila di lakukan sejak dini dan butuh proses yang sangat lama jadi para orang tua harus sabar dalam menyembuhkan anak mereka dari autisme disini ada beberapa cara penanganan pada anak autisme

a. Program edukasi seperti program berbasis sekolah, prevocational services. Diharapkan hal itu dapat mengurangi tingkah laku stereotypic, memperbaiki sosialisasi, meningkatkan keterampilan mandiri, meningkatkan kemampuan komunikasi verbal/nonverbal.

b. Terapi tingkah laku mencakup upaya meningkatkan tingkah laku positif, termasuk kontak mata, komunikasi verbal dan interaksi sosial. Awalnya upaya ini digunakan untuk mengurangi tingkah laku negatif seperti self injured.

c. Terapi berbicara dan bahasa. Dilakukan agar anak dapat berkomunikasi, meski secara nonverbal jika anak tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

d. Dukungan keluarga
Dilakukan untuk membantu anggota keluarga agar mengerti dan paham tentang autisme. Keluarga diharapkan memahami kekhususan tingkah laku dan perkembangan anaknya, keterbatasan dan keunggulan anaknya serta metode yang paling tepat bagi anaknya untuk meningkatkan kemampuan belajar adaptifnya.

e. Terapi psikofarmakologis
Meski bukan merupakan terapi utama, berguna untuk terapi tambahan pada gejala tertentu, seperti menyakiti diri sendiri, stereotypic, anxious (gelisah) atau hiperaktif.

Lalu ada juga cara penganganan dengan menggunakan program F.I.T(functional integrated team approach)

- Functional
Memberi perhatian pada keterampilan yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari, sesuai aktivitas berdasarkan umur, tingkat kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh anak.- Integrated
Menggabungkan semua aspek yang tercakup pada kurikulum. Tujuannya untuk menunjang perkembangan optimal anak.
- Team approached
Memberi penekanan pada kerja sama antara berbagai pihak yang menjadi kunci keberhasilan penanganan anak dengan kebutuhan khusus. Kerja sama ini penting untuk menjamin keberhasilan dan konsistensi pelayanan. Pihak-pihak yang terkait terdiri atas dokter ahli saraf anak, dokter ahli rehabilitasi medik, psikolog anak, pendidik, terapis, orang tua anak, pengasuh anak dan masyarakat luas.
Tidak hanya penanganannya saja tetapi anak penyandang autisme juga membutuhkan terapi untuk menunjang kesembuhannya juga .Ada beberapa terapi yang bisa di lakukan oleh para orang tua yaitu :

Terapi akupunktur. Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa menstimulasi sistem saraf pada otak hingga dapat bekerja kembali.
Terapi musik. Lewat terapi ini, musik diharapkan memberikan getaran gelombang yang akan berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Secara tak langsung, itu akan turut memperbaiki kondisi fisiologis.

Terapi perilaku. Tujuannya, agar sang anak memfokuskan perhatian dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Caranya dengan membuat si anak melakukan berbagai kegiatan seperti mengambil benda yang ada di sekitarnya.
Terapi anggota keluarga. Orangtua harus mendampingi dan memberi perhatian penuh pada sang anak hingga terbentuk ikatan emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan terapi pendukung yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain
Dan terakhir, adalah terapi lumba-lumba. Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba terkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelomba sonar (gelombang suara dengan frewkuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat meningkatkan neurotransmitter.

B. Dalam mempersiapkan kegiatan ini kami sempat mendapatkan jalan buntu dan kehabisan harapan karena kami sudah mendapatkan penolakan dari sekolah yang berbeda tetapi dengan doa dan usaha yang telah kelompok saya lakukan akhirnya setelah kita mendaftakan sekolah yang baru ternyata kita mendapatkan persetujuan untuk memberikan edukasi autisme di sekolah Smp Strada Pelita,dari persiapan materi kita sudah menyiapkannya berhari-hari dan sangat matang Cuma yang bikin kita was-was hanya sekolahnya saja karena pada saat itu pendaftaran untuk mengerjakan tugas ini semakin mepet dan kita juga sudah mendapatkan penolakan di pendaftaran sekolah yang pertama ,jika kita belum mendapatkan sekolah yang akan kita berikan edukasi kita tidak bisa menjalankan step berikutnya seperti membuat design attribut yang akan di berikan kepada anak-anak

C. Metode pengajaran yang di terapkan pada sekolah SMP Strada Pelita kita menggunakan ruang kelas masing-masing untuk memberikan edukasi tentang autisme karena jumlah anaknya yang sedikit maka anggota kelompok saya bisa menghandle setiap orang yang berisikan setiap kelas ada 2 orang Hal positif dalam menggunakan metode ini pelaksaan bisa berlangsung 1x di jam yang sama ,anak-anak lebih fokus karena suasana di luar ruangan sangat sepi,suasana dalam ruangan tidak canggung karena mereka sudah saling kenal satu sama lain dan di dalam setiap ruangan sudah tersedia proyektor ,hal negatifnya kita tidak bisa saling berkomunikasi antar kelompok karena kita kekurangan laptop dan apabila ada file yang corrupt kita harus mondar mandir ke kelas lain untuk meminta data 

D. dalam hal survey kami mohon maaf karena tidak bisa memberikan survey secara eksternal karena berhubung pada saat hari kita memberikan presentasi tentang Autisme guru-guru sedang sibuk mempersiapkan outbound yang sudah di rencanakan sekolah setelah presentasi ini 
Untuk survey secara internal dalam menjalankan kegiatan ini semua sudah melaksanakannya dengan semaksimal mungkin dan semua anggota kelompok saya berperan aktif  ,dalam disiplin waktu semuanya sudah datang dengan tepat waktu yaa... Cuma terhambat kemacetan yang sering terjadi di binus ,ide yang di sampaikan semuanya bagus dan imajinatif,untuk penerapan di lapangan semua berjalan dengan lancar ,semua anggota kelompok saya inisiatif aktif dalam memberikan saran saat briefeng sebelum acara di mulai dan sikap saat mulai presentasi baik pembicara ,dokumentasi dan operator memiliki etika berbicara yang baik dan sopan santun

Evaluasi

Untuk evaluasi kami mohon agar kalau membuat kegiatan yang besar seperti pergi kesekolah –sekolah berikan kami bantuan berupa memberikan penyuluhan perijinan kepada sekolah-sekolah yang di tuju soalnya ada beberapa sekolah yang menganggap dan mengantisipasi surat ijin yang di berikan oleh kita itu palsu seperti kop surat,nomor surat dll walau kita sudah mengenakan almamater tapi mereka masih kurang percaya karena acara besar yang begitu mendadak dan tanpa pemberitahuan dahulu dan untuk model attribut design campaignya akan di berikan di akhir isi blog ini 


3.Penutup

-Hasil kegiatan :
A.Sebelum kami datang kesekolah SMP Strada Pelita ini mereka sudah tahu bahwa kami akan datang untuk melakukan suatu presentasi karena sebelumnya murid-murid sudah di beritahukan oleh kepala sekolah lalu setelah kami memperkenalkan diri bersiaplah kami untuk melakukan presentasi awalnya mereka bingung kita mau presentasi apa tetapi setelah mereka melihat judulnya mereka langsung merasa antusias .Saya bertanya-tanya kepada mereka siapa saja yang pernah melakukan komunikasi dengan penyandang autisme ternyata hampir sebagian anak sudah mengalami kontak langsung dengan anak autisme seperti ada sodaranya yang juga penyandang autisme,lihat di mall dll.Setelah hampir satu jam berlalu kami memulai sesi pertanyaan,banyak dari mereka yang bertanya secara kritis tentang autisme .

Presentasi yang di lakukan di kelas 7



Presentasi yang di lakukan di kelas 8


Pada saat sesi pertanyaan 



Presentasi yang di lakukan di kelas 9


B.Kesimpulan dari pelaksanaan ini kita jadi lebih tahu apa itu autisme sebernarnya ,bagaimana kita bersikap apabila bertemu dengan orang penyandang autisme dan merubah mainset setiap orang bahwa anak autisme itu sama seperti kita yang ingin mandiri dalam melakukan kegiatan apapun hanya saja mereka terlambat dalam sistem motoriknya 



Duta Peduli Autis di Sekolah Vanlith dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia
dan   


Kelas:LD33
Dosen:Maria Engeline Santoso
Waktu : kamis,29-oktober-2015
Pukul:11.00-12.30
Lokasi: JL raya gunung sahari 91,gunung sahari selatan,kemayoran,jakarta pusat
Jumlah /siswa/peserta: 221 orang
Hadir:
Ketua : Luisa Nevita Dewi
Anggota :
1.       Luisa Nevita Dewi                            NIM: 1801383316
2.       Victo Tanu                                        NIM: 1801386021
3.       Andre Meliawan                               NIM: 1801374330
4.       Alvin Christian Chandra                   NIM: 1801384685
5.       Thomas Jaya Putra                            NIM: 1801384073
6.       Manuel Benny Tandrianto                NIM: 1801384496
7.       Lyon vensa                                        NIM: 1801373845
8.       Dennis Samuel                                  NIM: 1801373952



(di mulai dari orang-orang yang berdiri di lihat dari kiri ke kanan)
Luisa Nevita Dewi,Andre Meliawan,Thomas Jaya Putra,Dennis Samuel.dan Lyon Vensa
(orang-orang yang jongkok di lihat dari kiri ke kanan)
Manuel Benny Tandrianto,Victo tanu,dan Alvin Christian

2.      Bagian Isi
A.Didalam blog ini kita di berikan tugas mengunjungi sekolah untuk memberikan edukasi tentang autisme sebelum memberikan edukasi ini sebelumnya kita sudah mendapatkan penyuluhan yang di berikan oleh MPATI sendiri .Terlebih dahulu kita akan memberi tahukan apa itu autisme,cara menanggulanginya,pencegahannya dan cara menghadapai anak autisme .Autisme berasal dari kata autis yang berarti sendiri, pasien penderita autisme merasa memiliki dunianya sendiri. Biasanya mereka masa bodoh dengan apa yang terjadi di lingkungannya,autisme itu bukan sebuah penyakit tapi adalah sebuah kelainan genetik yang terjadi sejak di dalam kandungan ,Penyandang autisme tidak memandang status orang tuanya ini bisa terjadi di kalangan masyarakat miskin ,mengengah maupun kaya, Gejala autisme sebetulnya dapat mulai diketahui pada usia kurang dari 18bulan tetapi gejala ini masih belum terlihat dengan jelas .Menurut survey yang di lakukan oleh dokter penyandang autisme lebih sering menyerang anak laki-laki daripada anak perempuan ada beberapa gejala autisme yaitu :
Sejumlah gejala biasanya diperlihatkan oleh anak yang menderita autisme.

1. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun nonverbal, seperti:
- Terlambat bicara atau tidak dapat bicara.
- Mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain.
- Tidak mengerti dan tidak mengeluarkan kata-kata dalam konteks yang sesuai.
- Bicara tidak digunakan untuk komunikasi.
- Meniru atau membeo (ekolalia). Beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada maupun kata-katanya, tanpa mengerti artinya.

2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, misalnya:
- Menolak atau menghindar untuk bertatap mata.
- Tidak menoleh bila dipanggil. - Merasa tidak senang dan menolak untuk dipeluk.
- Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain.
- Bila ingin sesuatu ia menarik tangan orang lain yang terdekat dan mengharapkan tangan orang itu membantu melakukan sesuatu untuknya.
- Bila didekati untuk bermain justru menjauh.
- Tidak berbagi kesenangan untuk orang lain.

3. Gangguan dalam bidang perilaku dan bermain:
- Ia seolah tidak mengerti cara bermain. Bila sudah senang dengan satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh. Yang paling sering adalah keterpakuan pada roda atau sesuatu yang berputar.
- Ia sering juga memerhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau air yang bergerak. Perilaku yang ritualistik sering terjadi, misalnya kalau bepergian harus melalui rute tertentu, saat bermain harus melakukan urutan-urutan tertentu.
- Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misalnya tidak bisa diam, lari ke sana sini tidak terarah, melompat-lompat, berputar-putar, memukul-mukul pintu atau meja, mengulang-ulang suatu gerakan tertentu. Kadang-kadang terlihat perilaku melukai diri sendiri, anak memukul kepala sendiri atau membenturkan kepala ke dinding.
- Kadang anak terlalu diam, misalnya duduk diam bengong dengan tatapan mata yang kosong, bermain secara monoton dan kurang variatif secara berulang-ulang, duduk diam terpukau oleh suatu hal, misalnya bayangan atau benda berputar.

 4. Gangguan dalam bidang perasaan/emosi:
- Tidak ada atau kurangnya rasa empati. Ia tak kasihan melihat anak lain menangis melainkan merasa terganggu.
- Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata.
- Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapat yang diinginkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan destruktif.


5. Gangguan dalam persepsi sensoris:
- Mencium-cium, menggigit atau menjilati benda apa saja.
- Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
- Tidak menyukai rabaan atau pelukan. Jika digendong cenderung merosot atau melepaskan diri dari pelukan.
- Merasakan sangat tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan tertentu.

 autisme bisa di sembuhkan apabila di lakukan sejak dini dan butuh proses yang sangat lama jadi para orang tua harus sabar dalam menyembuhkan anak mereka dari autisme disini ada beberapa cara penanganan pada anak autisme

A. Program edukasi seperti program berbasis sekolah, prevocational services. Diharapkan hal itu dapat mengurangi tingkah laku stereotypic, memperbaiki sosialisasi, meningkatkan keterampilan mandiri, meningkatkan kemampuan komunikasi verbal/nonverbal.

B.Terapi tingkah laku mencakup upaya meningkatkan tingkah laku positif, termasuk kontak mata, komunikasi verbal dan interaksi sosial. Awalnya upaya ini digunakan untuk mengurangi tingkah laku negatif seperti self injured.

C. Terapi berbicara dan bahasa. Dilakukan agar anak dapat berkomunikasi, meski secara nonverbal jika anak tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

D Dukungan keluarga
Dilakukan untuk membantu anggota keluarga agar mengerti dan paham tentang autisme. Keluarga diharapkan memahami kekhususan tingkah laku dan perkembangan anaknya, keterbatasan dan keunggulan anaknya serta metode yang paling tepat bagi anaknya untuk meningkatkan kemampuan belajar adaptifnya.

e. Terapi psikofarmakologis
Meski bukan merupakan terapi utama, berguna untuk terapi tambahan pada gejala tertentu, seperti menyakiti diri sendiri, stereotypic, anxious (gelisah) atau hiperaktif.

Lalu ada juga cara penganganan dengan menggunakan program F.I.T(functional integrated team approach)

- Functional
Memberi perhatian pada keterampilan yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari, sesuai aktivitas berdasarkan umur, tingkat kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh anak.- Integrated
Menggabungkan semua aspek yang tercakup pada kurikulum. Tujuannya untuk menunjang perkembangan optimal anak.
- Team approached
Memberi penekanan pada kerja sama antara berbagai pihak yang menjadi kunci keberhasilan penanganan anak dengan kebutuhan khusus. Kerja sama ini penting untuk menjamin keberhasilan dan konsistensi pelayanan. Pihak-pihak yang terkait terdiri atas dokter ahli saraf anak, dokter ahli rehabilitasi medik, psikolog anak, pendidik, terapis, orang tua anak, pengasuh anak dan masyarakat luas.
Tidak hanya penanganannya saja tetapi anak penyandang autisme juga membutuhkan terapi untuk menunjang kesembuhannya juga .Ada beberapa terapi yang bisa di lakukan oleh para orang tua yaitu :

Terapi akupunktur. Metode tusuk jarum ini diharapkan bisa menstimulasi sistem saraf pada otak hingga dapat bekerja kembali.
Terapi musik. Lewat terapi ini, musik diharapkan memberikan getaran gelombang yang akan berpengaruh terhadap permukaan membran otak. Secara tak langsung, itu akan turut memperbaiki kondisi fisiologis.

Terapi perilaku. Tujuannya, agar sang anak memfokuskan perhatian dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Caranya dengan membuat si anak melakukan berbagai kegiatan seperti mengambil benda yang ada di sekitarnya.
Terapi anggota keluarga. Orangtua harus mendampingi dan memberi perhatian penuh pada sang anak hingga terbentuk ikatan emosional yang kuat. Umumnya, terapi ini merupakan terapi pendukung yang wajib dilakukan untuk semua jenis terapi lain
Dan terakhir, adalah terapi lumba-lumba. Telah diketahui oleh dunia medis bahwa di tubuh lumba-lumba terkandung potensi yang bisa menyelaraskan kerja saraf motorik dan sensorik pendeerita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelomba sonar (gelombang suara dengan frewkuensi tertentu) yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energi yang ada dalam tulang tengkorak, dada, dan tulang belakang pasien sehingga dapat membentuk keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Selain itu, gelombang suara dari lumba-lumba juga dapat meningkatkan neurotransmitter.

B. Dalam mempersiapkan kegiatan ini kami sempat mendapatkan jalan buntu dan kehabisan harapan karena kami sudah mendapatkan penolakan dari sekolah yang berbeda tetapi dengan doa dan usaha yang telah kelompok saya lakukan akhirnya setelah kita mendaftakan sekolah yang baru ternyata kita mendapatkan persetujuan untuk memberikan edukasi autisme di sekolah Smp Vanlith,dari persiapan materi kita sudah menyiapkannya berhari-hari dan sangat matang Cuma yang bikin kita was-was hanya sekolahnya saja karena pada saat itu pendaftaran untuk mengerjakan tugas ini semakin mepet dan kita juga sudah mendapatkan penolakan di pendaftaran sekolah yang pertama ,jika kita belum mendapatkan sekolah yang akan kita berikan edukasi kita tidak bisa menjalankan step berikutnya seperti membuat design attribut yang akan di berikan kepada anak-anak

C. Metode pengajaran yang di terapkan pada sekolah SMP vanlith kita menggunakan ruang auditorium untuk memberikan edukasi tentang autisme karena jumlah anaknya yang cukup banyak dan anggota kelompok saya yang terbatas maka kami memutuskan meminta ijin kepada kepala sekolah untuk menggunakan ruang auditorium .Hal positif dalam menggunakan metode ini pelaksaan bisa berlangsung 1x dan sangat efektif karena semua murid dapat mendengarkan penjelasan autisme dengan baik tanpa ada suara yang mengganggu dan hal negatifnya banyak anak-anak yang kurang fokus dalam memperhatikan kakak-kakaknya mempresentasikan tentang autisme karena gangguan oleh teman-teman sekitarnya

D. dalam hal survey kami mohon maaf karena tidak bisa memberikan survey secara eksternal karena berhubung pada saat hari kita memberikan presentasi tentang Autisme guru-guru sedang sibuk memeriksa hasil latihan try out dan kepala sekolah juga tidak ada di tempat makan kami tidak bisa menanyai guru .
Untuk survey secara internal dalam menjalankan kegiatan ini semua sudah melaksanakannya dengan semaksimal mungkin dan semua anggota kelompok saya berperan aktif  ,dalam disiplin waktu semuanya sudah datang dengan tepat waktu yaa... Cuma terhambat kemacetan yang sering terjadi di binus ,ide yang di sampaikan semuanya bagus dan imajinatif,untuk penerapan di lapangan semua berjalan dengan lancar ,semua anggota kelompok saya inisiatif aktif dalam memberikan saran saat briefeng sebelum acara di mulai dan sikap saat mulai presentasi baik pembicara ,dokumentasi dan operator memiliki etika berbicara yang baik dan sopan santun

Evaluasi

Untuk evaluasi kami mohon agar kalau membuat kegiatan yang besar seperti pergi kesekolah –sekolah berikan kami bantuan berupa memberikan penyuluhan perijinan kepada sekolah-sekolah yang di tuju soalnya ada beberapa sekolah yang menganggap dan mengantisipasi surat ijin yang di berikan oleh kita itu palsu seperti kop surat,nomor surat dll walau kita sudah mengenakan almamater tapi mereka masih kurang percaya karena acara besar yang begitu mendadak dan tanpa pemberitahuan dahulu


3.Penutup

-Hasil kegiatan :
A. Pada awalnya saat anak-anak melihat kita mereka tidak tau apa tujuan mahasiswa binus datang ke sekolah mereka lalu pada awal presentasi dari kita,ada beberapa dari mereka yang masih acuh tak acuh dan merasa tidak peduli tentang informasi tersebut tetapi setelah di pertengahan presentasi banyak anak-anak yang sudah fokus kepada pembicara dan mulai tertarik dengan informasi Autisme ada juga para guru yang mengikuti acara kami ini pada akhir presentasi dan pada saat sesi pertanyaan banyak banyak dari mereka yang bertanya dan ada gurupun yang ikut bertanya 

 Saat anak-anak semua berkumpul di auditorium


pembicara (dennis) mulai melakukan presentasitentang autisme


Disini kita membagi tugas masing-masing ada yang menjadi pembicara,MC,dokumentasi dan memantau anak-anak apabila ada anak-anak yang ingin bertanya pada sesi pertanyaan

saat presentasi selesai di bukalah sesi pertanyaan dan banyak sekali anak-anak yang ingin bertanya lebih lanjut dan ingin tahu apa itu autisme ,bahkan ada guru dari van lith yang ikut serta dalam bertanya di sesi pertanyaan yang kami berikan 







pemberian attribut design campaign berupa stiker yang di bagikan saat anak-anak membubarkan diri dari auditorium



B.Kesimpulan dari pelaksanaan ini kita jadi lebih tahu apa itu autisme sebernarnya ,bagaimana kita bersikap apabila bertemu dengan orang penyandang autisme dan merubah mainset setiap orang bahwa anak autisme itu sama seperti kita yang ingin mandiri dalam melakukan kegiatan apapun hanya saja mereka terlambat dalam sistem motoriknya